ACEH UTARA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi dirangkai dengan Haul Almarhum Abi Karimuddin yang ke-XV serta Haul Dayah Babussalam Baktiya yang ke-XX. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, turut dijadwalkan tausiah bersama Abuya Habibie Waly.
Hal tersebut terlihat dari spanduk kegiatan yang terpasang di lokasi acara. Spanduk tersebut secara jelas mencantumkan agenda Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M, Haul Almarhum Abi Karimuddin ke-XV, Haul Dayah Babussalam Baktiya ke-XX, serta tausiah bersama Abuya Habibie Waly.
ADVERTISEMENT
![]()
SCROLL TO RESUME CONTENT
Abi Karimuddin atau yang dikenal sebagai Abu Alue Bili merupakan tokoh ulama yang memiliki sejarah penting dalam perkembangan Dayah Babussalam. Berdasarkan profil yang dipublikasikan Yayasan Dayah Babussalam Baktiya, Abi Karimuddin mendirikan dayah dan kemudian memindahkannya ke Alue Bili Rayeuk sekitar tahun 1980 dengan nama Dayah Babussalam Alue Bili Rayeuk.
setelah Abi Karimuddin wafat pada 17 Desember 2011, kepemimpinan dayah diteruskan oleh putranya, Dr. Tgk. H. M. Zukhdi Karimuddin, Lc., MA.
Nasihat: Jangan Caci Maki Ulama
Dalam konteks kegiatan tersebut, Abuya Habibie Waly menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya menjaga penghormatan terhadap ulama.
Pesan yang disampaikan antara lain:
“Bek caci maki ulama karena kerajaan Aceh nyoe terbentuk karena ulama.”
Pesan tersebut mengandung ajakan agar masyarakat tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk mencaci, menghina atau merendahkan ulama.
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar. Namun, penyampaian kritik tetap perlu dilakukan secara bertanggung jawab, berdasarkan fakta dan tidak berubah menjadi penghinaan atau tuduhan yang tidak dapat dibuktikan.
Antara Kritik dan Penghinaan Harus Dibedakan
Dari perspektif jurnalistik dan hukum, penting untuk membedakan antara kritik, pendapat, tuduhan dan penghinaan.
Seseorang tetap dapat menyampaikan kritik terhadap pendapat, kebijakan maupun tindakan seorang tokoh agama.
Namun kritik tersebut idealnya disampaikan berdasarkan fakta dan argumentasi, bukan melalui cacian atau serangan terhadap kehormatan pribadi.
Begitu pula dalam pemberitaan, setiap tuduhan terhadap seseorang harus memiliki dasar yang jelas. Media tidak boleh mengubah sebuah dugaan menjadi fakta sebelum terdapat bukti atau keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, pesan Abuya Habibie Waly dapat ditempatkan sebagai nasihat keagamaan sekaligus ajakan menjaga etika dalam kehidupan sosial, khususnya ketika masyarakat menghadapi perbedaan pandangan.
Hubungan Abuya Habibie Waly dengan Almarhum Abi Karimuddin
Perlu ditegaskan pula bahwa Abuya Habibie Waly bukan berarti berasal dari atau merupakan pimpinan Dayah Babussalam. Sebagaimana keterangan yang disampaikan, beliau memiliki kedekatan dengan almarhum Abi Karimuddin, tokoh yang mendirikan dan memimpin Dayah Babussalam Alue Bili.
Kedekatan tersebut menjadi konteks tersendiri dalam kehadiran Abuya Habibie Waly dalam rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan haul almarhum Abi Karimuddin dan Dayah Babussalam.
Dengan demikian, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi momentum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang jasa dan perjuangan seorang ulama yang telah memberikan kontribusi dalam pendidikan keagamaan melalui Dayah Babussalam.
“Pesan yang disampaikan Abuya Habibie Waly pada akhirnya mengarah pada satu hal penting: perbedaan boleh terjadi, kritik boleh disampaikan, tetapi adab dan penghormatan terhadap ulama tetap harus dijaga.”
#britana














































