Britananews|Aceh Utara – Temuan yang dinilai janggal mencuat dari proyek rehabilitasi SMP Negeri 2 Syamtalira Aron yang dipimpin Kepala Sekolah Tengku Dian Efa Safitri, S.Pd. Berdasarkan hasil pantauan awak media di lapangan, sejumlah bagian bangunan yang sedang direhabilitasi diduga tidak menggunakan tulangan besi sebagai penguat konstruksi.
Awalnya, dugaan tersebut hanya ditemukan pada bangunan MCK. Namun, setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, awak media mendapati indikasi serupa pada beberapa bagian bangunan lainnya. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pelaksanaan pekerjaan serta efektivitas pengawasan proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, dalam setiap pekerjaan rehabilitasi gedung sekolah umumnya terdapat tenaga pengawas yang bertugas memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai gambar kerja, spesifikasi teknis, dan ketentuan yang berlaku. Karena itu, publik mempertanyakan bagaimana dugaan penyimpangan tersebut dapat luput dari pengawasan.
Muncul berbagai pertanyaan, apakah fungsi pengawasan telah dijalankan secara optimal, atau justru terdapat dugaan pengurangan spesifikasi pekerjaan yang berpotensi memengaruhi kualitas bangunan. Hal tersebut dinilai perlu dijelaskan secara terbuka oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Saat dikonfirmasi, kepala tukang proyek, Ismail, mengaku tidak mengetahui bahwa terdapat beberapa bagian bangunan selain MCK yang diduga tidak menggunakan tulangan besi.
Sementara itu, P2SP Abdul Manaf mengaku terkejut ketika awak media menunjukkan temuan tersebut. Pernyataan itu pun memunculkan tanda tanya, mengingat P2SP memiliki tanggung jawab melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan di lapangan agar tetap sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
Awak media menilai temuan ini merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele. Pasalnya, penggunaan tulangan besi pada bagian konstruksi tertentu merupakan elemen penting untuk menjaga kekuatan, stabilitas, dan ketahanan bangunan sesuai perencanaan teknis. Apabila benar terdapat bagian bangunan yang seharusnya menggunakan tulangan besi namun tidak dipasang, maka kondisi tersebut perlu segera diaudit oleh instansi yang berwenang.
Persoalan ini bukan semata-mata menyangkut administrasi proyek, melainkan juga menyangkut aspek keselamatan peserta didik, tenaga pendidik, serta seluruh pengguna fasilitas sekolah di masa mendatang. Tidak seorang pun menginginkan bangunan pendidikan dibangun dengan kualitas yang dipertanyakan.
Ketika dimintai keterangan, Kepala SMP Negeri 2 Syamtalira Aron, Tengku Dian Efa Safitri, S.Pd., mengaku tidak mengetahui adanya dugaan tersebut. Ia menyatakan bahwa apabila benar ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi, maka hal itu merupakan tanggung jawab pihak pelaksana di lapangan dan bukan atas sepengetahuannya.
Masyarakat berharap Dinas Pendidikan Aceh, Inspektorat, serta aparat penegak hukum segera turun melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh terhadap proyek rehabilitasi tersebut. Apabila hasil pemeriksaan nantinya membuktikan adanya penyimpangan dari spesifikasi pekerjaan, maka pihak yang bertanggung jawab diharapkan dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sebab, pembangunan sekolah bukan sekadar menyelesaikan sebuah proyek fisik, melainkan juga menjamin keamanan, kenyamanan, dan masa depan generasi penerus bangsa yang menimba ilmu di dalamnya.












































