Hari Santri bukan sekedar hari libur atau karnaval sarung. Ini hari untuk ingat *siapa kita.*
1. MENGAPA 22 OKTOBER?
Ini bukan tanggal lahir pesantren. Ini tanggal keluarnya *Resolusi Jihad* oleh *Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari* di Surabaya pada 22 Oktober 1945.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Waktu itu Surabaya mau diserang Inggris dan Belanda yang mau menjajah lagi. Tentara kita masih lemah. Lalu Mbah Hasyim keluarkan fatwa:
*”Hukumnya Fardhu ‘Ain bagi setiap muslim dalam radius 94 km dari Surabaya untuk ikut berperang. Yang mati, mati syahid.”*
Karena fatwa itulah, 10 November meletus Pertempuran Surabaya. Santri-santri Jombang, Lirboyo, Tebuireng, Ploso, Bangkalan — yang tadinya hanya membawa kitab, turun membawa bambu runcing.
Jadi, Indonesia merdeka bukan hanya karena pidato di Jakarta, tapi karena doa dan darah santri di Jawa Timur.
2. SIAPA ITU SANTRI SEBENARNYA?
Banyak orang mengira santri itu orang/anak yang mondok, pakai sarung, peci hitam.
Padahal kata *KH. Mustofa Bisri (Gus Mus),* ada 3 makna santri:
*a. SANTRI = SINTREN? Bukan.*
Dalam bahasa Jawa, Santri dari kata *”Cantrik”* artinya pengikut setia seorang guru. Ikut kemana gurunya pergi.
*b. SANTRI = SA + N + TRI*
*Sa*= Satir (menutupi aib orang lain)
*N* = Naib (wakil ulama meneruskan dakwah)
*Tri* = Tiga, yaitu Islam, Iman, Ihsan — disatukan
*c. Menurut Mbah Kholil & Mbah Hasyim: Santri adalah orang yang punya 3 hal:*
1. *Ngaji* — Mau belajar seumur hidup
2. *Ngabdi* — Mau melayani guru dan masyarakat
3. *Ngayah* — Tidak dibayar pun tetap jalan, karena lillahi ta’ala
3. TIGA WARISAN SANTRI YANG HARUS KITA JAGA DI 2026
Hari Santri tahun ini temanya tentang *”Santri untuk Negeri”.* Apa yang bisa kita wariskan?
1. *HUBBUL WATHON MINAL IMAN — Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman.*
Ini dawuhnya Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Santri tidak pernah bertanya *”Negara memberi apa untuk saya?”* Tetapi bertanya: *”Apa yang bisa saya beri untuk negara?”*
Menjadi warga yang jujur, bayar pajak, tidak menyebar hoax, itu sudah jihad santri hari ini.
2. *TAWASUTH, TASAMUH, TAWAZUN — Jalan Tengah.*
Santri tidak gampang mengkafirkan, tidak gampang marah di medsos. Kalau ada perbedaan, disikapi dengan musyawarah, bukan caci maki. Di era TikTok yang keras ini, akhlak santri yang adem itu mahal sekali.
3. *MAN JADDA WAJADA — Siapa Bersungguh-sungguh, Dia Akan Sampai.*
Santri diajari sorogan, bandongan, roan, ngarit, nyuci piring. Dari hal kecil itulah *الله* ajari ketahanan. Kalau anak Pemerhati _Mutiara Takwa_ sekarang sedang malas bekerja, mungkin membutuhkan sedikit didikan model santri: *kerja keras tanpa gengsi.*
4. DOA HARI SANTRI UNTUK KELUARGA KITA
Rasulullah cinta santri. Santri pertama dalam Islam adalah *Ahlus Shuffah* — sahabat yang tinggal di masjid Nabawi, belajar siang malam, tidak punya rumah.
Maka malam 22 Oktober nanti, ajarkan anak cucu kita doa ini:
*Allahummaj’alna wa dzurriyyatina min Ahlil ‘Ilmi, Ahlil Qur’an, Ahlil Khair, wa la taj’alna wa dzurriyyatina min Ahlil Jahli wa Ahlid Dharar*.
Ya Allah jadikan kami dan keturunan kami golongan orang berilmu, ahli Qur’an, ahli kebaikan, dan jangan jadikan kami golongan orang bodoh yang merugikan.
PENUTUP
Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Hasyim Asy’ari, mereka tidak meninggalkan gedung pencakar langit untuk kita. Mereka meninggalkan *pesantren dan sanad.*
Gedung bisa roboh, tapi sanad ilmu tidak akan putus kalau kita teruskan.
Cara merayakan Hari Santri paling bagus bukan hanya pakai sarung pada 22 Oktober.
Tapi:
– Kirim Fatihah untuk pahlawan santri di Aceh dan Surabaya
– Belikan sarung baru untuk anak atau suami
– Daftarkan anak ngaji TPQ, meski cuma seminggu sekali
– Dan yang paling penting: *Jaga lisan kita agar tetap santun seperti santri.*
Karena santri itu mekarnya lama, tapi mekarnya abadi.
Selamat Hari Santri, Semoga kita dicatat sebagai keluarga santri sampai yaumil qiyamah. 🤲🤲
Penulis: Tgk. Hasanuddin, M.Ed
: Dosen ISTNU Aceh












































