Foto: Siswa,Siswi Dewqn Guru dan Para Praktisi, Senin (12/10/2026)
BRITANANEWS | BANDA ACEH – Membekali pelajar dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana sejak dini menjadi fokus program Tagana Masuk Sekolah (TMS) yang digelar Dinas Sosial Aceh bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Banda Aceh, Senin (12/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 tersebut diawali dengan apel pembukaan di halaman SMP Negeri 6 Lampineung, Banda Aceh. Pada hari pertama, tim Tagana Aceh bersama Tagana Kota Banda Aceh telah melaksanakan edukasi kebencanaan di Tiga sekolah, yakni SMP Negeri 6, SD Negeri 25 Lampriet dan SMP Neg. 2 Lampriet.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Program ini melibatkan jajaran Dinas Sosial Aceh, Dinas Sosial Kota Banda Aceh, serta praktisi Taruna Siaga Bencana (Tagana) sebagai narasumber.
Materi yang diberikan menitikberatkan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai potensi ancaman bencana, langkah penyelamatan diri, dan pentingnya menjaga kelestarian lingkung
Dalam kegiatan tersebut, para pelajar diperkenalkan dengan berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor, termasuk cara mengenali potensi ancaman di lingkungan sekitar. Edukasi ini diharapkan membantu siswa memahami tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.
Selain penyampaian materi, kegiatan TMS juga menekankan simulasi dan latihan evakuasi. Siswa dilatih meninggalkan ruang kelas dan gedung sekolah secara tertib, melindungi kepala saat terjadi gempa, serta mengenali titik kumpul yang aman.
Aspek pelestarian lingkungan turut menjadi bagian penting dalam edukasi mitigasi bencana. Para pelajar diajak memahami manfaat penanaman pohon untuk membantu menjaga kestabilan tanah, mengurangi erosi, dan mendukung upaya pencegahan risiko bencana di lingkungan sekitar.
Melalui program TMS, Dinas Sosial Aceh mendorong sekolah menjadi bagian penting dalam membangun budaya sadar bencana. Pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga dibagikan kepada keluarga dan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya memperkuat kesiapsiagaan generasi muda agar lebih tanggap, sigap, dan tidak panik ketika menghadapi bencana, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa pengurangan risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama.*[TU]












































