Britananews.com | GAYO LUES — Banjir dan longsor susulan melanda Kabupaten Gayo Lues pada 14 September 2026, kembali mengganggu akses Jalan Nasional Blangkejeren–Kutacane serta merendam rumah warga di sejumlah kawasan terdampak.
Mahasiswa Universitas Abulyatama asal Gayo Lues, Sabarudin, menilai penanganan bencana tersebut masih terlalu lambat dan belum menunjukkan kesiapsiagaan yang sebanding dengan tingginya risiko wilayah.
Menurut Sabarudin, masyarakat sempat menghadapi gangguan akses akibat material longsor di sejumlah titik. Ia menyoroti perlunya respons lapangan yang lebih cepat ketika jalur nasional kembali tertutup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jalan Blangkejeren–Kutacane merupakan jalur vital bagi mobilitas warga, distribusi logistik, dan aktivitas ekonomi. Karena itu, sistem tanggap darurat harus mampu bergerak cepat ketika bencana terjadi,” ujar Sabarudin.
Data penanganan lapangan menunjukkan longsor terjadi di delapan titik, meliputi Tetumpun, Tangsaran, Begade 4, Meloak Sepakat, Durin Daun, Titi Maut, dan Air Panas, yang mengganggu kelancaran transportasi masyarakat.
Selain longsor, banjir lumpur dilaporkan menggenangi 17 rumah di Dusun Air Panas, Desa Singah Mulo, Kecamatan Putri Betung. Sejumlah titik jalan juga masih rawan longsor susulan.
Sabarudin juga menilai penanganan tidak cukup berhenti pada pembersihan material. Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat mitigasi melalui penguatan tebing, pemulihan vegetasi, pemantauan, dan sistem peringatan dini.
“Masyarakat tidak boleh terus berada dalam pola penanganan yang hanya reaktif. Pemerintah daerah dan pusat perlu membangun sistem mitigasi dan respons yang lebih terukur,” katanya.
Di tengah penanganan banjir dan longsor, kebakaran juga terjadi di Desa Ulun Tanoh, Kecamatan Kuta Panjang, yang menghanguskan 20 rumah dan menambah beban penanganan darurat masyarakat.
Sejumlah titik longsor telah dibersihkan sehingga akses mulai kembali terbuka, namun kondisi ruas Blangkejeren–Kutacane masih memerlukan kewaspadaan. Koordinasi lintas instansi tetap diperlukan untuk mengantisipasi longsor susulan.












































