KUTACANE, ACEH TENGGARA – BritanaNews, 23 Juni 2026 – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-52 Kabupaten Aceh Tenggara yang digelar di Stadion H. Syahadat, Desa Pulonas, Kecamatan Babussalam, menuai kritik tajam dari kalangan wakil rakyat. Ketua Fraksi Selayakh DPRK Aceh Tenggara, M. Rafi Sekedang, menegaskan bahwa budaya Alas sebagai identitas asli daerah itu hanya mendapatkan porsi sangat minim, bahkan terkesan dijadikan pelengkap semata, bukan sebagai wajah utama perhelatan yang didanai dari anggaran publik tersebut.
Rafi menilai, sejak pembukaan acara resmi yang berlangsung pukul 16.30 WIB hingga berakhirnya rangkaian kegiatan, tidak ada satu pun penampilan yang secara utuh dan mendalam menampilkan kekayaan budaya Alas. Ia menyebut, yang tampil justru unsur budaya lain, sementara pakaian adat Alas yang sempat terlihat hanya sebatas hiasan pada beberapa tokoh, tidak ditampilkan dalam bentuk atraksi, tarian, atau pertunjukan yang menggambarkan nilai sejarah dan kearifan lokal.
“Secara terang-terangan kita lihat, dari awal hingga akhir acara, budaya Alas tidak mendapatkan ruang yang layak. Seolah-olah ini bukan hari jadi Aceh Tenggara, melainkan ajang memamerkan budaya lain. Pakaian adat yang ada hanya sekadar dipakai untuk foto bersama, tidak ada penampilan yang menyentuh inti jati diri kita,” tegas Rafi dengan nada tegas saat ditemui awak media, Rabu (23/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mempertanyakan dasar pertimbangan panitia penyelenggara yang menyusun susunan acara sedemikian rupa. Menurutnya, perayaan HUT daerah adalah momen paling tepat untuk memperkenalkan sekaligus menguatkan identitas Alas di hadapan masyarakat sendiri maupun tamu undangan yang datang dari luar daerah. Ketika budaya lokal justru tersisih, maka tujuan utama perayaan itu dianggap gagal tercapai.
“Uang yang dipakai untuk menggelar acara ini adalah uang rakyat Aceh Tenggara. Logikanya, hasilnya harus kembali mencerminkan siapa kita. Jika budaya Alas hanya mendapat tempat yang sempit dan tersembunyi, maka ada yang keliru dalam konsep dan keputusan panitia,” kritiknya semakin tajam.
Rafi juga menyoroti dugaan bahwa tidak ada tokoh adat atau budayawan Alas yang dilibatkan dalam penyusunan konsep acara. Menurutnya, keterlibatan mereka seharusnya menjadi syarat mutlak agar setiap penampilan yang ditampilkan sesuai dengan nilai aslinya dan tidak kehilangan makna.
“Apakah panitia sengaja mengesampingkan tokoh budaya Alas? Jika ya, ini kesalahan besar. Kita tidak bisa mengaku mencintai daerah, tapi melupakan akar budayanya sendiri. Ini bukan sekadar soal acara, tapi soal keberlangsungan identitas generasi mendatang,” tandasnya.
Sampai berita ini diturunkan, pihak panitia pelaksana maupun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Tenggara belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi terkait kritik yang disampaikan tersebut. Tidak ada penjelasan mengenai alokasi waktu, anggaran, maupun dasar pertimbangan yang digunakan dalam menyusun rangkaian kegiatan HUT ke-52 itu.
Sebagai prinsip pemberitaan yang berimbang, BritanaNews tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak panitia, pemerintah daerah, maupun instansi terkait untuk menyampaikan jawaban, penjelasan, maupun hak jawabnya. Berita ini disusun berdasarkan keterangan narasumber yang menyampaikan kritik dan belum menarik kesimpulan akhir sebelum ada penjelasan resmi dari pihak yang dituju. (Hartono pinim)












































