Penguasa yang Tuli terhadap Kritik Tak Layak Bicara Soal Adab dan Etika

Redaksi

- Redaksi

Kamis, 28 Mei 2026 - 17:11 WIB

50319 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Farid Duha, Pengamat Kebijakan Publik

Farid Duha, Pengamat Kebijakan Publik

Oleh: Farid Duha (Pengamat Kebijakan Publik)

Britana.com | Banda Aceh ‐ Pasca reformasi, Indonesia selalu membanggakan diri sebagai negara demokrasi. Kebebasan berekspresi dianggap sebagai napas baru setelah lama hidup dalam bayang-bayang kekuasaan yang otoriter. Namun, sampai hari ini, banyak penguasa masih gagap memahami kritik. Mereka ingin disebut demokratis, tetapi sering kali tidak siap dikritik.

Kritik seharusnya dipahami sebagai bagian dari kontrol publik. Apalagi jika kritik itu disampaikan berdasarkan fakta, data, dan realitas yang terjadi di lapangan. Namun, yang kerap terjadi justru sebaliknya. Ketika penguasa tidak mampu membantah kritik dengan argumentasi yang kuat, mereka memilih jalan pintas yaitu menyerang pribadi si pengkritik.

ADVERTISEMENT

Banner Web

SCROLL TO RESUME CONTENT

Inilah pola lama yang terus dipelihara. Kritik tidak dijawab dengan data, tetapi dibalas dengan tuduhan. Substansi persoalan sengaja dikaburkan. Kebijakan yang bermasalah tidak dievaluasi, sementara karakter orang yang mengkritik justru dijadikan sasaran utama.

Penguasa dan para pembelanya biasanya sangat peka mencari celah kesalahan dari si pengkritik. Satu kalimat yang dianggap keras, satu ekspresi kemarahan, atau satu narasi pembelaan diri akan dipelintir seolah-olah kritik itu lahir dari kebencian, bukan dari keresahan publik.

Akibatnya, si pengkritik dipaksa masuk ke ruang pembelaan diri. Ia tidak lagi membicarakan substansi kebijakan, tetapi sibuk menjawab fitnah, tuduhan tidak beradab, tidak sopan, tidak tahu etika, bahkan dianggap menyerang pribadi pejabat. Di titik inilah kritik dibunuh secara perlahan.

Pertanyaannya, di mana sebenarnya adab harus diletakkan?

Adab tentu penting dalam kehidupan publik. Kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah, hinaan personal, atau serangan yang tidak berdasar. Seorang pengkritik tetap harus menjaga etika, menyampaikan pendapat dengan dasar yang jelas, dan tidak memanipulasi fakta.

Namun, adab juga wajib dimiliki oleh penguasa. Pejabat publik tidak boleh hanya menuntut rakyat untuk sopan, sementara dirinya sendiri tuli terhadap kritik. Tidak boleh penguasa berlindung di balik kata “adab” hanya untuk menghindari evaluasi.

Pejabat publik adalah pelayan masyarakat, bukan pemilik kekuasaan. Maka, ketika masyarakat menyampaikan kritik terhadap kebijakan, tugas penguasa adalah mendengar, menjawab, dan memperbaiki jika memang ada kesalahan. Bukan justru merasa paling benar, paling suci, dan paling tidak boleh disentuh.

Hari ini, kata “adab” sering disalahgunakan. Ia tidak lagi dipakai sebagai nilai moral, tetapi dijadikan tameng kekuasaan. Siapa pun yang mengkritik dengan keras langsung dicap tidak beretika. Padahal, bisa jadi kritik itu keras karena penderitaan masyarakat juga sudah terlalu lama diabaikan.

Penguasa yang anti kritik sering kali lebih sibuk menjaga citra daripada memperbaiki kerja. Mereka takut citranya rusak, tetapi tidak takut kebijakannya menyakiti rakyat. Mereka marah ketika dikritik, tetapi diam ketika masyarakat kecewa.

Maka, jangan jadikan sopan santun sebagai alat membungkam suara publik. Jangan gunakan kata adab untuk menutupi kegagalan menjawab kritik. Sebab dalam demokrasi, kritik bukan penghinaan. Kritik adalah peringatan agar kekuasaan tidak berjalan semaunya.

Kita memang harus beradab dalam mengkritik. Tetapi adab harus diletakkan pada tempat yang benar. Rakyat perlu beretika saat menyampaikan kritik, tetapi penguasa juga harus punya etika publik dalam menerima kritik.

Pemimpin yang baik bukan pemimpin yang alergi terhadap suara keras. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang punya telinga luas, hati lapang, dan keberanian untuk mengevaluasi diri. Sebab kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan kesombongan, dan kesombongan kekuasaan adalah awal dari rusaknya demokrasi.

Berita Terkait

Bupati TRK Tinjau Kesiapan Bandara Cut Nyak Dhien Sambut Kedatangan Presiden Prabowo
Masjid Giok Jadi Pusat Peringatan Milad GAM ke-50 di Nagan Raya
Menelusuri Jejak Sejarah Hari Santri: Institut Nahdlatul Ulama (ISTNU) Aceh Mengangkat Kembali Semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Anggota DPR Aceh dari Partai Demokrat ini Ajak Pengurus PWI Duduk Bareng
LANA Kritik Kebijakan Bupati Aceh Barat: Bahasa Itu Dinamis, Jangan Semua Kehendak Penguasa Dijadikan Kewajiban
Pecahkan Rekor MURI, LANA Sindir Bupati Aceh Barat: Mengapa Bukan Rekor Pengentasan Kemiskinan?
Jakarta Komisaris Pelindo Arief Poyuono – Danantara Momentum Ubah Paradigma BUMN dari Birokrasi Anggaran ke Strategi Permodalan Profesional
Ghufran Melepas 42 Mahasiswa Baru Al Azhar Mesir dari Aceh

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 01:19 WIB

Wakil Ketua IPELMASRA Desak DPP PPP Copot Mohd. Rizki Ramadhan, Minta Dugaan Skandal Rumah Dinas Diusut

Selasa, 3 November 2026 - 01:05 WIB

Susi Air Kembali Beroperasi di Nagan Raya, Bupati TRK: Perkuat Konektivitas dan Buka Peluang Investasi

Senin, 2 November 2026 - 13:53 WIB

PT KIM NAGAN RAYA MERESAHKAN RAKYAT: Dua Bulan Dokumen Disetor, Tanah Warga Bumi Sari Belum Diselesaikan

Minggu, 1 November 2026 - 21:48 WIB

DPD KNPI Nagan Raya Gelar Maulid dan Santuni Anak Yatim

Minggu, 1 November 2026 - 19:34 WIB

Bupati TRK Tinjau Kesiapan Bandara Cut Nyak Dhien Sambut Kedatangan Presiden Prabowo

Minggu, 1 November 2026 - 14:15 WIB

57 Hektare Ladang Ganja di Nagan Raya Dimusnahkan,Ditresnarkoba Polda Aceh dan Brimob Batalyon C Pelopor

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Perkuat Silaturahmi dan Kedekatan dengan Masyarakat, Kapolres Aceh Tenggara Gelar Jumat Keliling di Masjid Al-Hustha

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Dana Desa Kuta Mbaru 2023–2025 di Agara Disorot, Anggaran Air Limbah Rp80 Juta Dan Pengajian Rp30 Juta Dipertanyakan

Berita Terbaru