Delapan Bulan Pascabanjir, Warga Pedalaman Aceh Utara Masih Krisis Air Bersih dan Dihantui Penyakit Kulit

SAMSUL EDY S.HUT.,M.Kv

- Redaksi

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:30 WIB

5059 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Delapan Bulan Pascabanjir, Warga Pedalaman Aceh Utara Masih Krisis Air Bersih dan Dihantui Penyakit Kulit

Delapan Bulan Pascabanjir, Warga Pedalaman Aceh Utara Masih Krisis Air Bersih dan Dihantui Penyakit Kulit

Britana.Com || ACEH UTARA – Delapan bulan setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah di Aceh, ratusan warga di Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, masih berjuang menghadapi dampak bencana yang belum sepenuhnya pulih. Krisis air bersih dan meningkatnya kasus penyakit kulit menjadi persoalan utama yang hingga kini membayangi kehidupan masyarakat pedalaman tersebut.

Delapan Bulan Pascabanjir, Warga Pedalaman Aceh Utara Masih Krisis Air Bersih dan Dihantui Penyakit Kulit

Tim Rumah Zakat Aceh yang melakukan kunjungan langsung ke lokasi menemukan kondisi warga yang masih sangat memprihatinkan. Untuk mencapai desa tersebut, perjalanan harus ditempuh sekitar satu jam melalui jalan rusak, berlubang, dan berdebu yang membelah hamparan perkebunan kelapa sawit. Di balik keterisolasian itu, warga masih menghadapi kesulitan mendapatkan akses air bersih yang layak.

Sebelum banjir terjadi, masyarakat sebenarnya telah memiliki sumur bor. Namun kualitas air yang dihasilkan sudah bermasalah karena mengandung minyak. Setelah banjir melanda, kondisi semakin memburuk. Air berubah menjadi keruh dan bercampur lumpur sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

Banner Web

SCROLL TO RESUME CONTENT

Delapan Bulan Pascabanjir, Warga Pedalaman Aceh Utara Masih Krisis Air Bersih dan Dihantui Penyakit Kulit

Kondisi tersebut memaksa warga bergantung pada air sungai untuk mandi, mencuci, dan berbagai aktivitas rumah tangga lainnya. Ironisnya, sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat juga membawa lumpur, ranting, batang kayu, hingga berbagai material sisa banjir yang menurunkan kualitas air secara signifikan.

Akibat penggunaan air yang tidak layak, berbagai penyakit kulit mulai menyerang warga. Keluhan gatal-gatal, panu, hingga iritasi kulit dialami oleh anak-anak, balita, hingga orang dewasa. Meski banjir telah lama surut, masalah kesehatan tersebut masih terus dirasakan masyarakat.

Kepala Dusun Desa Rumoh Rayeuk, Saiful, mengungkapkan bahwa persoalan air bersih hingga kini belum mendapatkan solusi yang memadai. Menurutnya, warga hanya bisa mengendapkan air selama dua hingga tiga hari agar lumpurnya mengendap sebelum digunakan.

“Kalau bisa kami di sini ingin mandi menggunakan air yang benar-benar bersih. Kami sangat membutuhkan sumur bor agar masyarakat mendapatkan sumber air yang lebih baik,” ujar Saiful.

Tidak hanya itu, sebagian warga bahkan harus membeli air galon untuk kebutuhan tertentu seperti memandikan anak. Namun, keterbatasan ekonomi membuat tidak semua keluarga mampu membeli air bersih setiap hari.

Delapan Bulan Pascabanjir, Warga Pedalaman Aceh Utara Masih Krisis Air Bersih dan Dihantui Penyakit Kulit

Desa Rumoh Rayeuk sendiri dihuni sekitar 466 kepala keluarga (KK), dengan sekitar 200 KK tergolong Rumah Tangga Miskin (RTM). Mayoritas penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian, khususnya komoditas pinang dan jeruk nipis. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, akses terhadap air bersih menjadi tantangan yang semakin berat bagi masyarakat.

Selain persoalan air bersih, infrastruktur jalan yang rusak juga menjadi hambatan besar bagi mobilitas warga dan distribusi bantuan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan tambahan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang setiap hari harus melewati jalur berdebu tersebut.

Hasil pemantauan Rumah Zakat Aceh menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana di wilayah pedalaman belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Karena itu, diperlukan langkah nyata berupa penyediaan sarana air bersih yang berkelanjutan, seperti pembangunan sumur bor atau sistem penyediaan air bersih yang layak agar warga tidak lagi bergantung pada air sungai yang kualitasnya terus menurun.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi mereka. Bagi masyarakat Desa Rumoh Rayeuk, pulih dari bencana bukan hanya ketika air banjir telah surut, tetapi ketika setiap keluarga dapat menikmati akses air bersih yang aman tanpa harus khawatir terhadap penyakit dan ancaman kesehatan yang terus menghantui kehidupan sehari-hari.

Reporter: Rumah Zakat Aceh
Editor: Britana.com

Berita Terkait

Kakanim Eko Yudis Parlin Raja GukGuk Imigrasi Belawan raih dua penghargaan program Desa Binaan Imigrasi Belawan
Kuala Tanjung PT Prima Multi Terminal Anak Perusahaan Pelindo Terminal Petikemas Tinjau ROS Fasilitas Peralatan Infrastruktur Prosedur Kerja
Tuanku Muhammad Ucapkan Selamat kepada Sulthan Muhammad Yus atas Amanah Baru sebagai Jubir Pemerintah Kota Banda Aceh
Tuanku Muhammad Apresiasi MTQ ke 1 Gampong Lamgugob, Dusun Kayee Adang Timur Raih Juara Umum
Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Gelar Kuliah Umum tentang Filsafat Islam
Bupati TRK Bertemu Menko Bahlil, Bahas Investasi, Hilirisasi dan Lapangan Kerja*
Senja di gunung Bau bau
Demonstrasi Tuntut Bencana Aceh Jadi Bencana Nasional Berakhir Ricuh, Sejumlah Massa Diamankan

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 20:46 WIB

Tebing Tinggi Kalapas Kelas IIB Tebing Tinggi Bahtiar Sembiring Bersama Jajaran Sosialisasi dan Pengarahan Langsung ke WBP Blok CD

Minggu, 1 November 2026 - 01:15 WIB

Hari Sumpah Pemuda 2026, KAI Sumut Perkuat Peran Generasi Muda dalam Pengembangan Transportasi Publik

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:17 WIB

EGM Pelindo Regional 1 Belawan Yusrizal Sebut Penyesuaian Penting Tingkatkan Kualitas Efektivitas Pelayanan Pastikan Transisi Lancar

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Dukungan Penerapan Pemindai Peti Kemas Hi-Co Scan di Terminal A dan B BNCT Patungan Pelindo DP World Sosialisasi 20 Oktober 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Tebing Tinggi Jumat 30 Oktober 2026 Kalapas Bahtiar Sembiring Pimpin Jajaran Bersihkan Sampah Rumput Liar Material Hambat Aliran Air

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Penandatanganan di Kantor Pelindo Regional 1 Medan Kamis 29 Oktober 2026 Oleh Kepala KSOP Mukhlish Tohepaly dan ED 1 Pelindo Hanny Uktolseya

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:23 WIB

Dipimpin Kalapas Bahtiar Sembiring Evaluasi Tugas Tingkatkan Kedisiplinan Perkuat Pemahaman Tugas Fungsi Tanggung Jawab Petugas

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:22 WIB

Lapas Tebing Tinggi Komitmen Perkuat Kolaborasi Wujudkan Pelayanan Profesional Transparan dan Berintegritas

Berita Terbaru