BERITANEWS.COM-Medan, 8 Agustus 2026 PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara terus menunjukkan komitmennya dalam merawat dan melestarikan warisan sejarah perkeretaapian melalui keberadaan Monumen Lokomotif Uap DSM 38 yang berada di kawasan Stasiun Medan.

Lokomotif uap yang telah berusia sekitar 113 tahun tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan panjang perkeretaapian di Sumatera Utara. Keberadaannya merepresentasikan peran kereta api dalam membangun konektivitas antarwilayah, mendukung distribusi hasil perkebunan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sejak awal abad ke-20.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan Monumen Lokomotif DSM 38 memiliki nilai historis yang penting bagi perkembangan transportasi kereta api di Sumatera Utara.
“Lokomotif DSM 38 menjadi simbol perkembangan perkeretaapian di Sumatera Utara. Kehadirannya mengingatkan bahwa kereta api telah berkontribusi dalam membuka konektivitas antarwilayah, mendukung distribusi hasil perkebunan, dan menggerakkan perekonomian daerah selama lebih dari satu abad,” ujar Anwar.
Lokomotif DSM 38 merupakan peninggalan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta pada era Hindia Belanda yang membangun jaringan perkeretaapian pertama di Sumatera bagian timur. Pada masa operasionalnya, jaringan tersebut digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan sekaligus melayani perjalanan penumpang.
Berdasarkan catatan sejarah, lokomotif tersebut diproduksi pada 1913 oleh Sächsische Maschinenfabrik vorm. Richard Hartmann AG di Chemnitz, Jerman. Setahun kemudian, lokomotif mulai beroperasi di wilayah Sumatera Utara.
Selama sekitar 63 tahun masa operasionalnya, DSM 38 melayani perjalanan kereta penumpang maupun angkutan barang di sejumlah lintas, di antaranya Medan–Tebing Tinggi, Medan–Kisaran, dan Medan–Tanjungbalai. Setelah dipensiunkan pada 1977, lokomotif tersebut kemudian ditempatkan sebagai monumen di kawasan Stasiun Medan.
Menurut Anwar, keberadaan DSM 38 tidak hanya menjadi simbol perjalanan sejarah perkeretaapian, tetapi juga memiliki nilai edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Monumen ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat secara langsung perjalanan perkembangan teknologi perkeretaapian. Kami berharap generasi muda semakin mengenal sejarah perkeretaapian nasional melalui peninggalan yang masih terawat dengan baik,” katanya.
Seiring dengan revitalisasi Stasiun Medan dalam beberapa tahun terakhir, Monumen Lokomotif DSM 38 tetap dipertahankan sebagai bagian dari kawasan heritage stasiun sekaligus salah satu landmark Kota Medan.
Meski demikian, Anwar menyampaikan bahwa untuk sementara waktu masyarakat maupun calon penumpang belum diperbolehkan melakukan swafoto di lokasi monumen. Hal tersebut berkaitan dengan proses penataan kawasan Stasiun Medan, termasuk area di sekitar monumen, dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kenyamanan.
“Saat ini Stasiun Medan sedang dalam tahap penataan kawasan, termasuk di area sekitar monumen lokomotif. Oleh karena itu, masyarakat untuk sementara waktu belum bisa melakukan swafoto di lokasi tersebut hingga seluruh proses penataan selesai,” tutur Anwar.
Ia menambahkan, Monumen Lokomotif DSM 38 merupakan satu-satunya monumen lokomotif uap yang dipajang secara permanen di kawasan stasiun aktif di Sumatera Utara. Meskipun hingga saat ini belum ditetapkan sebagai objek cagar budaya, lokomotif tersebut memiliki nilai historis yang tinggi bagi perkembangan perkeretaapian di Pulau Sumatera.
“KAI berkomitmen menjaga dan melestarikan aset heritage perkeretaapian sebagai warisan sejarah bangsa. Kami berharap Stasiun Medan ke depan dapat menjadi salah satu destinasi wisata heritage yang membanggakan Sumatera Utara,” pungkas Anwar.
(***)












































