Aceh Tenggara, Britanews.com, 8 Agustus 2026. Upaya memperkuat kembali komoditas kakao Aceh memasuki momentum penting melalui Lokakarya Duek Pakat Kakao Aceh ke-XIII yang digelar di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Revitalisasi Kakao Aceh Berbasis Agroforestry Berkelanjutan Menuju Hilirisasi Tangguh.” Tema ini menegaskan pentingnya pengembangan kakao Aceh yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi di tingkat kebun, tetapi juga mendorong pengolahan hasil serta peningkatan nilai tambah bagi petani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan informasi pada banner kegiatan yang didokumentasikan di lokasi, forum Duek Pakat Kakao Aceh menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas persoalan, tantangan, sekaligus peluang pengembangan komoditas kakao di Aceh.
Sebelumnya,
Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menyampaikan bahwa kegiatan Duek Pakat Kakao Aceh dijadwalkan berlangsung di Aceh Tenggara pada 8–9 Agustus 2026, melalui kolaborasi dengan Forum Kakao Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.
Kakao Aceh Memiliki Potensi Besar
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki potensi ekonomi penting bagi masyarakat Aceh.
Data Statistik Perkebunan Aceh Tahun 2025 yang dikutip dalam pemberitaan sebelumnya mencatat luas areal kakao di Aceh mencapai sekitar 87.770 hektare, dengan produksi sekitar 33.604 ton biji kakao kering. Komoditas tersebut juga menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 100 ribu kepala keluarga.
Besarnya potensi tersebut, di sisi lain, masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari produktivitas tanaman, kualitas hasil panen, kelembagaan petani, akses pasar dan pembiayaan, hingga keterbatasan pengolahan hasil kakao menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Karena itu, konsep revitalisasi berbasis agroforestry berkelanjutan dan hilirisasi dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kakao Aceh ke depan.
Peningkatan produksi di tingkat kebun perlu diikuti dengan penguatan sektor pascapanen, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan industri berbasis kakao.
Dengan demikian, nilai tambah komoditas tersebut diharapkan tidak hanya dinikmati pada sektor perdagangan, tetapi juga dapat dirasakan secara lebih langsung oleh para petani.
Diharapkan Menghasilkan Langkah Konkret
Lokakarya Duek Pakat Kakao Aceh ke-XIII diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Forum tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi serta langkah konkret yang dapat ditindaklanjuti pemerintah, pelaku usaha,
lembaga pendamping, dan para petani kakao.
Sejumlah persoalan seperti penguatan kelembagaan petani, peremajaan dan peningkatan kualitas tanaman,
penerapan teknologi budidaya, akses pembiayaan, peningkatan mutu biji kakao, pengembangan pasar, hingga pembangunan industri pengolahan dinilai perlu menjadi perhatian bersama.
Dengan potensi lahan dan jumlah petani yang besar, Aceh memiliki peluang untuk meningkatkan posisi dalam rantai nilai kakao, baik di tingkat nasional maupun pasar internasional.
Namun, peluang tersebut membutuhkan kebijakan yang konsisten,
pendampingan berkelanjutan, penguatan kelembagaan, serta keterlibatan aktif petani sebagai pelaku utama.
Petani Harapkan Dampak Nyata
Pelaksanaan Duek Pakat Kakao Aceh ke-XIII juga menjadi momentum untuk melihat sejauh mana berbagai program pengembangan kakao mampu memberikan dampak nyata terhadap masyarakat, khususnya petani.
Keberhasilan revitalisasi kakao tidak semata-mata diukur dari bertambahnya luas tanaman atau peningkatan produksi. Lebih jauh,
keberhasilan perlu dilihat dari meningkatnya produktivitas, kualitas hasil panen, pendapatan petani, serta semakin kuatnya posisi tawar petani dalam rantai perdagangan kakao.
Karena itu, hasil pembahasan dalam forum tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program yang nyata, terukur, dan berkelanjutan, khususnya bagi daerah-daerah sentra kakao di Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Tenggara.
Dengan demikian, momentum Duek Pakat Kakao Aceh ke-XIII di Kutacane diharapkan menjadi salah satu titik penguatan kembali sektor kakao Aceh, dari tingkat budidaya hingga hilirisasi, sehingga komoditas tersebut mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat dan petani (Hartono Pinim)












































